Paguyuban Selasa Kliwon
Setiap hari Senin “Malam Selasa Kliwon”, beberapa orang sepuh warga Umat Katolik Wilayah Pangkalan Jati yang berminat, bertemu di rumah salah seorang warga; untuk “sarasehan” dengan topik tertentu, yang disepakati pada pertemuan yang lalu. Tujuannya untuk menambah pengetahuan, antara lain bagaimana “menghayati iman Katolik dalam konteks kebudayaan”. Jadi bukan sarasehan tentang “ilmu klenik” ! Juga bukan maksudnya hanya “ngangsu kawruh ngelmu tuwo-kasepuhan”; dalam arti bukan hanya membicarakan “kebatinan”, atau “kejawen”, ataupun “kebudayaan jawa” saja; meskipun disadari bahwa kebudayaan Jawa sarat mengandung banyak “pitutur luhur”, dan ada diantaranya yang sangat sesuai dengan “Ajaran Iman Katolik”.
Antara lain, misalnya, tentang “Manunggaling Kawulo lan Gusti”, yang arti maksudnya adalah sama dengan yang tertulis dalam Injil Yohanes, “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. (Yoh 17:22-23).
Dikalangan orang Jawa, ada kebiasaan untuk “wungon”, yakni berjaga, atau tirakatan, atau “lek-lek an”, tidak tidur sebelum pukul 00.00, Maka pertemuan itu biasa dimulai sekitar pukul 09.00 hingga pukul 23.30, sering sampai lebih pukul 00.00; tanpa makan malam, namun jika tuan rumah ”mamaksa” nyuguh dahar ataupun sekedar “nyamikan” – snack tidak ditolak. Kalau tanpa ngunjuk dan dahar kasihan lah, maklum yang rawuh umumnya sudah sepuh, jika tidak sedang tidur maunya makan yang enak-enak. Sambil silaturahmi, dahar dan ngunjuk enak, melakukan “ulah pikir, sambung rasa kasih sayang saling memaparkan pengalaman rohani dengan landasan Iman Katolik.
Topik di-sarasehan-kan, didahului Pengantar dari “Penyaji Bergilir”. Topik-nya tidak selalu yang “berat-berat”, dan kalau “termasuk berat” penyajiannya dikemas sederhana, tapi mengena; sering dengan metode “saur-manuk” (seperti burung berkicau yang bersahut-sahutan); saresehan menjadi “hidup” selain saling mengisi juga saling menghibur, dengan tresno-asih. Beberapa topik yang pernah diperbincangkan misalnya:
1) Mengenai Allah Tritunggal, Kitab Suci, Sejarah Gereja,
2) Ajaran Konsili Vatican II, “Konstitusi Dogmatis Tentang Wahyu Ilahi dan Iman” (Dei Verbun).
3) Mengenai Liturgi Gereja Katolik, Misa Berbahasa Latin, Musik Gregorian, dll.
4) Mengenai “Cegah Dini Bahaya Terinfeksi HIV-AIDS Sejak Bayi di kandung”.
5) Informasi “Oleh-oleh, mengikuti Rekoleksi Paguyuban Lansia Paroki St.Leo Agung”, antara lain “kemunduran fisik para lansia, dan lain-lain”
6) Oleh-oleh, mengikut Orientasi Bagi Aktivis Pelaku Dialog Hubungan Agama dan Kepercayaan (HAK); yang diselenggarakan Komisi HAK KAJ.
7) Dan lain-lain, ….. masih banyak lagi.
Paguyuban Selasa Kliwon terbuka, bagi siapa saja, yang ingin berbagi pengalaman tentang penghayatan dan pelaksanaan ajaran iman nya di dalam kehidupan sehari-hari. Iman dilakukan dalam bentuk perbuatan cinta kasih. Iman Katolik, yang dihayati dalam pelbagai dimensi kehidupan: dimensi pribadi, relasi inter-personal (khususnya dalam komunitas keluarga), dimensi sosial: sosial-ekonomi, sosial-budaya, bahkan sesekali sosial-politik. Mau tahu lebih banyak? Silahkan ikut, asal tidak ngantuk ! Tak usah nunggu jadi lansia, karena ngelmu tua itu boleh juga dikuasai oleh yang muda!
Pengurus : Bapak S.J. Mudjiatmo, Phone : 021-8629205 atau 0813-17357350
|